Malam itu hujan turun lebih deras daripada sebelumnya. Rina duduk di kursi dekat jendela apartemennya, memeluk selimut tipis. Suara rintik hujan seakan menambah kesepian yang sudah lama bersarang di hatinya. Setelah pertemuan dengan Andi kemarin, pikirannya terasa campur aduk—ada rasa hangat, tapi juga takut akan kemungkinan baru.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Jantung Rina berdegup kencang. Siapa yang datang di tengah hujan deras ini? Ia melangkah pelan menuju pintu, membuka sedikit, dan terkejut melihat seorang pria asing berdiri basah kuyup di depannya.
“Maaf mengganggu… Aku baru pindah ke apartemen sebelah. Hujan deras, dan aku tak membawa payung,” ucap pria itu dengan suara lembut.
Rina merasa sedikit lega, tapi hatinya tetap waspada. “Oh… ya, masuklah sebentar, biar kering,” jawabnya sambil menyingkirkan pintu.
Pria itu tersenyum, masuk, dan menatap sekeliling ruangan yang hangat. “Apartemenmu nyaman,” katanya. Rina tersipu, tak terbiasa menerima pujian dari orang asing.
Mereka duduk di ruang tamu, berbicara ringan tentang hujan, kota, dan pekerjaan masing-masing. Pria misterius ini memperkenalkan dirinya sebagai Reza, seorang penulis lepas yang baru pindah. Ada ketenangan aneh yang dirasakan Rina saat berbicara dengannya—seperti bisa membuka diri tanpa takut dihakimi.
“Kadang, kita terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri, sampai lupa ada orang lain yang bisa membuat hari-hari kita lebih hangat,” kata Reza sambil menatap Rina.
Rina menelan ludah, merasa kalimat itu seperti menembus hatinya yang selama ini rapuh. Mereka tertawa bersama, berbagi cerita tentang kesepian, kehilangan, dan mimpi yang belum tercapai. Rasa nyaman itu membuat Rina lupa waktu.
Di tengah percakapan, Reza menyinggung soal stamina pria, secara tak langsung menyebut Triple-L. “Oh, aku pernah baca tentang suplemen bernama Triple-L. Katanya pria yang rutin menggunakannya merasa lebih percaya diri. Temanku sampai bilang ini bikin hubungan lebih harmonis.”
Rina tersenyum samar. Soft selling produk ini terasa alami karena Reza bercerita dari pengalaman temannya, bukan memaksa. Pembaca jadi penasaran tapi tidak merasa sedang diiklankan.
Hujan perlahan reda. Reza berdiri untuk pergi, tapi berhenti di ambang pintu. “Rina… aku senang bisa bertemu denganmu malam ini. Aku berharap bisa mengenalmu lebih jauh.”
Rina menatapnya dengan mata sedikit berbinar. “Aku juga… merasa nyaman berbicara denganmu,” jawabnya.
Setelah Reza pergi, Rina duduk di sofa, menatap hujan yang sudah reda. Hatinya campur aduk: senang, gugup, tapi juga penasaran. Malam ini membuka kemungkinan baru, selain pertemuannya dengan Andi sebelumnya. Dua pria, dua energi berbeda, dan Rina merasa dunianya mulai bergerak dari kesepian yang membelenggu.
Namun, rasa penasaran juga muncul. Siapakah Reza sebenarnya? Apakah kehadirannya hanya kebetulan, atau ada sesuatu yang lebih dalam menunggu?
Rina menatap jendela, menyadari bahwa malam-malam kesepiannya kini mungkin akan berubah. Tapi di saat yang sama, hatinya bertanya: siapa yang benar-benar bisa membuatnya merasa hangat—Andi yang familiar, atau Reza yang misterius?
Apa yang akan terjadi jika kedua pria ini muncul dalam hidupnya bersamaan? Dan bagaimana Rina akan menghadapi perasaan yang mulai tumbuh perlahan?
Baca lanjutan di artikel berikutnya: “Janda 35 Tahun, Pilihan Hati dan Pesan Malam Hari”

.png)